09
Nov
09

KULIAH?PERJUANGAN?

Sudah lama tidak menuangkan pikiran dalam tulisan di blog saya. emmm…mmmmm..hahahaaaaa.. walaupun banyak krispinya alias garingnya..waaahaahahahaha..(disini harus ketawa).
Banyak cara untuk mengekspresikan diri kita, semenjak menjadi Ibu R T, banyak kebiasaan-kebiasaan saya yang berubah. Naaah..salah satunya yang paling terasa adalah interaksi sosial, contoh: dulu bisa bergosiiip ria, pergi bersama teman, jalan kesana, jalan kesini, dan masih ada ratusan lagi. Dari situlah, saya mulai memberanikan diri untuk menulis, soal apa sajalah, tergantung moood. Karena bukan novelist jadi tidak bermasalah kalau “moodiian”. Menurut saya, menulis tidak boleh dipaksakan.

Masih belajar dan masih mencoba memahami proses-proses perubahan ini. Karena memang tidak mudah, contoh: waktu saya kembali lagi ke kampus, setelah lama tidak kuliah, terasa sekali betapa tuuuulaaaliiitttnya saya. Teman-teman saya yang seangkatan sudah pada diwisuda. Saat itu saya sering sekali merasa gelisah, yang pasti sedih karena harus mulai berjuang kembali. Di sisi lain, saya sudah menikah dan mempunyai bayi.

Sempat juga saya berfikir, buat apa saya teruskan kembali kuliah saya, capek, capek, capek, capek. Toh, suami saya bekerja. Kalau mau cara instant, bayar saja seseorang untuk mengerjakan skripsi, kan cepat, capat, cepat, cepat. Kembali lagi saya berfikir, buat apa kuliah atau gelar atau apapun juga yang seakan-akan membuat keren nama saya di KTP. Toh saya tidak berkerja secara profesional. Hanya ada kemarahan yang tidak ada jawabannnya. Kemudian mencoba lagi untuk meneruskan S2, dan tanpa disangka-sangka saya diterima di universitas favorit saya.

Saya sadar, bahwa belajar tidak harus di bangku perkuliahan ataupun meraih gelar S2,S3,S4 atau pun gelar-gelar lainnya. Saya, mengundurkan diri dalam program S2, karena saya tahu, itu hanya keinginan daging. Saya tidak mau diremehkan, tidak mau dianggap sebelah mata, ingin menjadi “super women”, walau pada kenyataannya banyak wanita-wanita yang seperti itu. Saya salut. Tetapi, saya bukan seperti mereka. Tidak boleh memaksakan kehendak saya yang sangat ambisius.

TUHAN, SELALU MENGERTI SAYA MELEBIHI ORANG YANG TERDEKAT SEKALI PUN.
DSC04369

02
Oct
09

DEWASA DILEMA

Baru saja melihat korban bencana alam di televisi, saya meneteskan air mata, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian, anak saya rewel karena remote tv yang agak-agak macet, dia menangis, membanting-bantingkan remote, hanya karena benda mati itu tidak berfungsi. Kemudian, saya juga tidak ketinggalan untuk menyesal, karena telah memarahi anak saya. Dan saya juga ingin menangis karena terlalu cepat untuk melalukan suatu kesalahan, yang selalu saya lakukan berulang-ulang. Mengapa, seakan-akan air mata itu gampang untuk menetes. Mengapa harus ada rasa penyeselan setelah “apa saja yang tidak sesuai dengan hati, kita lakukan”.

Mencoba untuk memahami proses-proses ini. Melihat, merasakan, kejadian di dunia ini akan selalu menegangkan. Melihat, merasakan kejadian dalam suatu rumah tangga penuh dengan cerita nyata bukan cerita dongeng putri-raja. Melihat dan merasakan akan ada perubahan-perubahan secara fisik, pemikiran. Melihat dan merasakan kesalahan manusia, dan menyadari kenaifan kita.

Mencoba untuk menghilangkan ego, rasa tidak perduli. Belajar untuk berempati, bersimpati. Kita bisa lupa dengan apa yang kita perbuat, kita lakukan, kita ucapkan. Tapi hati manusia tidak akan pernah lupa akan apa yang dirasakannya.

TUHAN, AJARILAH, ATURLAH, ARAHKANLAH, SETIAP LANGKAH saya.
DSC00770

21
Aug
09

Dia,…

Bagiku Dia adalah Surga
Bagiku Dia adalah Tawa
Bagiku Dia adalah Rasa
Bagiku Dia adalah Massa
Bagiku Dia adalah saya

Saya Bangga akan Dia, yang memberikan saya, dia, Mama.
Saya rasa kamu juga, sama.

Bagiku, seorang anak tidak’lah elok apabila mencemooh seorang wanita yang sudah berumur, apalagi “Dia” sudah mempunyai cucu. Mungkin wanita tersebut mempunyai sikap-sikap yang tidak terasa sejuk. Bagaimana dengan Ibumu?.
Lebih baik seorang anak tetaplah menjadi seorang anak yang tulus, meskipun “Dia” bukan Ibumu, meskipun “Dia” tidak melahirkanmu, meskipun “Dia” tidak membesarkanmu, meskipun “Dia” bermasalah dengan orangtuamu!, Sopan dan Santun adalah Harta yang tidak ternilai. Mengasihi / Mangasihani ?

“Tidak ada yang dapat merubah manusia, bahkan Mama maupun Ibumu!, tetapi biarlah Tuhan yang sama-sama kita percayai yang mengubah mereka”

BIRING MANGGIS I LOVE U
DSC00940

01
Aug
09

.. INI NAMANYA PENYANYI..!!!

Yaaa… bulan-bulan ini, saya teutteuuup…masih dengan alasan yang sama, banyak ide-ide di “kepala” , tapi sedang tidak bergairah untuk menuliskannya… Boleh dong?..!
Nah, saat ini saya mau menunjukkan satu video yang unik, bisa menjadi salah satu inspirasi apabila mempunyai cita-cita sebagai seorang PENYANYI…. siap..senyum dulu….enjoy!!!

21
Jul
09

I AM CHANGING

Wahhh… bulan2 ini banyak ide dikepala, namun sulit untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan. Sekarang saya lagi suka denger lagu-lagu yang asik. Menurut saya. Walaupun lagu-lagunya sudah ada sebelum saya lahir. Jujur, saat ini sepertinya sulit untuk dapat mendengarkan lagu yang dapat dikenang sepanjang masa. Ditengah banyaknya “aliran-aliran” lagu yang semakin tidak bisa dimengerti. Namun, banyak juga sih lagu-lagu saat ini yang saya suka. Nah, lagu lama ini pertama kalinya saya dengar pada saat nonton film “DREAMGRILS”. I AM CHANGING, satu lagu yang bagus, vokal yang bagus, penjiwaan yang bagus, yang tidak kalah penting makna yang bagus. ENJOY!!!

21
Jul
09

Somewhere Over The Rainbow

satu kata ” SWEET “, lagu yang saya kenal semenjak sd terus dinyanyikan oleh idola saya Queen B.

08
Jul
09

” Human Nature ”

Looking Out
Across The Night-Time
The City Winks A Sleepless Eye
Hear Her Voice
Shake My Window
Sweet Seducing Sighs

Get Me Out
Into The Night-Time
Four Walls Won�t Hold Me Tonight
If This Town
Is Just An Apple
Then Let Me Take A Bite

If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way
If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way

Reaching Out
To Touch A Stranger
Electric Eyes Are Ev�rywhere
See That Girl
She Knows I�m Watching
She Likes The Way I Stare

If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way
If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way
I Like Livin� This Way
I Like Lovin� This Way

Looking Out
Across The Morning
The City�s Heart Begins To Beat
Reaching Out
I Touch Her Shoulder
I�m Dreaming Of The Street

If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way

If They Say -
Why, Why, Tell �Em That Is Human Nature
Why, Why, Does He Do Me That Way
I Like Livin� This Way

13
May
09

Jangan berantem ahh..!!

Anda dan pasangan sering bertengkar dan tak pernah menemukan kata sepakat karena tak ada yang mau mengalah. Banyak orang tidak menyadari bahwa kelangsungan hubungan cinta, baik itu dalam tahap pacaran ataupun sudah menikah, sebenarnya terletak pada kemauan berkompromi.

Lalu, bagaimana mengutarakan keinginan dan menegosiasikannya dengan pasangan agar tercapai kompromi yang memuaskan kedua belah pihak?

Berikut panduan yang diberikan Caro Handley lewat bukunya Sorted In 30 Days Relationship.

1.Pilih waktu ketika suasana hati Anda dan dia sedang baik

Cara ini akan membuat Anda berdua berbicara dengan lebih terbuka dan tenang. Jika salah satu sedang tidak mood, negosiasi bisa berjalan sangat panjang dan keras atau malah berakhir dengan pertengkaran.

2.Pastikan tidak ada interupsi

Misalnya deringan telepon, tamu, atau anak-anak (bagi yang sudah berkeluarga). Semakin sedikit gangguan, pembicaraan akan lebih terfokus dan masalah akan cepat menemukan titik terang.

3.Duduklah berhadapan

Duduklah saling berhadapan di meja makan. Ini akan menciptakan suasana serius dan membantu Anda berdua merasa lebih dewasa sekaligus merasa sejajar. Hindari situasi Anda berdiri, dia duduk.

4.Bicara secara bergantian

Sering kali kita merasa bahwa suara kitalah yang harus didengar. Padahal, yang adil adalah Anda berdua saling mendengarkan. Utarakanlah masalah dan pendapat secara bergantian, jangan berebut bicara.

5.Bersedia mengalah untuk beberapa hal

Sering kali masing-masing pihak ingin jadi pemenang. Padahal, jika Anda berdua mengalah untuk beberapa hal, masalah cepat selesai. Sadarilah bahwa benar atau salah bukanlah hal yang mutlak. Ini hanya perbedaan sudut pandang saja. Jangan terbawa emosi yah…

6.Tahu batas

Ketahuilah batasan Anda. Ada hal-hal yang tak bisa dinegosiasikan dan ditawar-tawar. Tentukan apa saja yang tergolong di dalamnya. Jadi, negosiasikan hal-hal yang lebih fleksibel atau yang tak begitu prinsipal.

7.Alternatif jalan keluar

Ketika pikiran terbuka, pasti selalu ada solusi untuk setiap masalah. Nah, untuk mengantisipasi kebuntuan, cobalah kemukakan dan kompromikan semua alternatif jalan keluar yang ada. Sejauh mungkin hindari debat yang berkepanjangan.

8.Istirahat sejenak jika diskusi memanas

Ketika negosiasi memanas, istirahatlah. Tarik napas panjang dan minum segelas air untuk menenangkan hati. Jika mungkin, carilah sisi lucu pertengkaran tadi. Jika Anda berdua mulai tertawa, ketegangan akan mereda. Jangan malah terbakar emosi dan meninggalkan pasangan Anda tanpa memberikan solusi yang berarti.

9.Win-win solution

Carilah solusi yang bisa diterima dan mewakili keinginan Anda berdua. Kalau salah satu memilih mengalah demi mempercepat negosiasi, cara ini akan membuat si pengalah menyesal kelak.

10.Siap bernegosiasi lagi

Setelah menemukan solusi, jangan lupa buat kesepakatan. Jika ternyata solusi tak berhasil dijalankan, Anda dan dia bersedia kembali duduk berhadapan untuk bernegosiasi mencari solusi lain. Jadi, siapa bilang negosiasi tidak penting dalam hubungan cinta Anda berdua? Namun, perlu diingat negosiasi ini hanya mungkin dilakukan jika Anda dan dia yakin bahwa Anda berdua berhak memperoleh penyelesaian yang memuaskan. (kutipan dari http://pondokpenabur.blogspot.com)

13
May
09

TIPE YANG MANA SUAMI MU ??

1. WORKAHOLIC

A workaholic, colloquially, is a person who is addicted to work (the correct medico-legal term is “ergomania”).

The phrase does not always imply that the person actually enjoys their work, but rather simply feels compelled to do it. There is no generally accepted medical definition of such a condition, although some forms of stress, obsessive-compulsive personality disorder and obsessive-compulsive disorder can be work-related. (kutipan dari http://en.wikipedia.org)

Tipe suami seperti ini lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Tak heran jika waktu yang tersedia untuk keluarga sangatlah sedikit. Ia adalah seorang pekerja keras. Suami yang workaholic umumnya memiliki ego yang tinggi. Ia berpikir, toh semua demi kesejahteraan keluarga.
Solusi:
Tak ada kata lain selain sabar. Carilah saat tepat untuk menyampaikan uneg-uneg Anda. Misalnya, menjelang tidur saat ia sudah dalam keadaan relaks. Katakan bahwa Anda dan anak-anak mengkhawatirkan kesehatannya yang terlalu diforsir untuk urusan pekerjaan, dan mengajaknya untuk berlibur di akhir pekan. Anda memang harus aktif. Ingatkan suami bahwa sesibuk apa pun, ia harus menyempatkan diri bersama keluarga. Yang terpenting adalah komunikasi.

2. PEMALAS
Tipe ini kebalikan dari tipe workaholic. Tipe seperti ini tentu sangat meresahkan istri. Pasalnya, selain tak mau bekerja, ia juga menyandarkan hidup sepenuhnya pada istri. Rumahtangga yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai kepala rumahtangga, ia alihkan pada istri. Istrilah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Solusi:
Sama halnya tipe workaholic, menghadapi suami pemalas juga butuh kesabaran tinggi. Jika tidak, bisa-bisa ribut sepanjang hari. Berbicara dari hati ke hati merupakan cara efektif. Tanyakan apa yang menyebabkan ia tak mau bekerja. Jika alasannya sulit mencari pekerjaan, Anda bisa memintanya menciptakan pekerjaan baru sesuai kemampuan yang ia miliki. Katakan bahwa tidak selamanya bekerja itu harus di kantor. Di rumah pun bisa bekerja. Yang penting ada kemauan. Ingatkan suami bahwa rumahtangga adalah tanggungjawab bersama antara Anda dan dia.

3. PERFEKSIONIS
Ini yang seringkali membuat istri kewalahan. Segala sesuatu harus kelihatan sempurna di matanya. Tak boleh ada yang cacat. Suami perfeksionis biasanya banyak menuntut. Istri harus cantik, pintar, rajin, pandai masak, dan sebagainya. Padahal, semua itu belum tentu dapat terpenuhi oleh sang istri.
Solusi:
Rasanya memang kesal melihat suami yang terlalu banyak menuntut. Tetapi Anda tak perlu emosi. Katakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Mintalah ia mengerti kekurangan Anda, seperti halnya Anda bisa mengerti kekurangannya.

4. ANAK MAMI
Suami tipe anak seringkalli mengesalkan. Apa-apa, ia selalu minta pendapat sang ibu. Segala hal tentang diri Anda juga selalu dibandingkan dengan ibunya. Obsesinya adalah, Anda harus sama dengan figur ibunya. Mulai dari cara berdandan, memasak sampai memberikan kasih sayang. Parahnya jika suami tipe ini meminta istrinya mengubah sosok dan karakter agar serupa dengan ibunya. Jika keinginannya tidak terwujud, ia akan meminta bantuan sang ibu untuk memberi nasihat.
Solusi:
Mintalah suami untuk memahami bahwa Anda dan ibunya memiliki perbedaan. Katakan, mengubah karakter dan penampilan agar serupa dengan ibunya bukanlah hal mudah. Semua itu butuh waktu dan proses. Tentu, tak ada salahnya Anda meniru hal positif dari ibu mertua Anda.

5. CEMBURU
Suami tipe ini selalu curiga pada istri. Segala gerak-gerik istri selalu diawasi, mulai dari menerima telepon, menerima tamu, atau pun berbicara dengan lawan jenis. Perhatiannya pada sang istri biasanya menjadi berlebihan. Kalau bisa, di mana pun istrinya berada, ia ada pula di sana. Bisa jadi, ini didasari oleh rasa cinta berlebihan dan tidak mau kehilangan.
Solusi:
Sikap suami yang seperti ini bisa juga menandakan bahwa ia sangat mencintai Anda. Hanya saja, ingatkan suami bahwa sifat yang terlalu berlebihan tidak baik. Anda pun jadi tak nyaman. Mintalah suami memberi Anda kebebasan bergerak. Yakinkan dia bahwa Anda tetap mencintai dia.

6. TIDAK ROMANTIS
Yang ini kebalikan dari tipe suami pencemburu. Suami tipe ini cenderung kaku dan acuh pada istri. Ia tidak tahu bagaimana caranya memanjakan istri. Yang terjadi biasanya istrilah yang meminta dimanjakan dan diperhatikan.
Solusi:
Anda dituntut untuk bersikap lebih agresif. Tak ada salahnya memulai bersikap romantis lebih dulu, dengan memberikan ciuman, belaian dan perhatian misalnya. Katakan bahwa Anda juga menginginkan hal itu dapat ia lakukan pada Anda. Tentu, tak mudah mengubah seseorang yang dingin menjadi agresif. Tetapi jika Anda sabar, pasti sifat dingin suami akan mencair sedikit demi sedikit.

7. PEMARAH DAN BAWEL
Suami tipe ini memiliki temperamen tinggi dan gampang tersulut emosinya. Masalah kecil bisa menjadi besar. Umumnya suami pemarah sulit mengendalikan diri. Selain suka marah-marah, suami juga bawel. Segala hal tak luput dari “perhatiannya”. Penataan rumah yang kurang menarik, lantai yang kotor, dan sebagainya. Jika tak bisa menyikapi, bisa-bisa hubungan Anda menjadi terganggu.
Solusi:
Kuncinya, berkepala dingin. Apalagi jika itu sudah merupakan pembawaannya. Saat ia melampiaskan emosinya, Anda harus mampu meredam diri, tidak terbawa emosi. Biarkan ia berbicara sepuasnya, baru setelah itu Anda sampaikan betapa sifatnya itu sangat mengganggu hubungan Anda. Jika Anda mampu menyampaikannya dengan baik, suami pun pasti akan mencoba mengubah sifat pemarahnya.

8. ROMANTIS
Yang ini termasuk tipe suami ideal. Romantis dan penuh kasih sayang pada istri dan keluarga. Seluruh hidupnya ia curahkan pada keluarga. Kehidupan rumahtangga pun umumnya harmonis dan langgeng. Kalau pun ada perselisihan, akan cepat teratasi. Ini semua karena didasari oleh sikap saling mencintai, menghargai dan mengisi satu sama lain.
Solusi:
Meski Anda mendapat suami ideal, masih ada tugas lain yang harus Anda lakukan yaitu, mempertahankan kehidupan rumahtangga Anda. Kedengarannya mudah, namun pelaksanaannya tidaklah semudah yang ada di benak Anda. Yang penting adalah saling mengisi dan saling berkomitmen bahwa apa pun, perkawinan adalah di atas segala-galanya.
(kutipan http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/26/16312188/mengenal.8.tipe.suami)

03
Apr
09

GADIS I

“Dari mana kamu?…”, Fe bertanya dengan gelisah.
“Mau tau aja!”, Gadis bebicara sinis.
“Kamu mau denger gak?…, Fe berbicara lebih keras.
“Gadis, aku ini kembaranmu, kenapa sih mau dibohongi lagi, dia itu penipu, sabar…sabar, sudah jangan menyesali yang sudah terjadi…sabar. sabar…”, Fe menghapus air mata yang membasahi pipi Gadis adiknya.
Gadis tetap terdiam dan terus menangis, tidak dapat lagi berkata-kata, menangis dan terus menangis.
“Gadis, sudahlah yang berlalu biarlah berlalu, semua pasti punya masa lalu yang mungkin kalau kita ingat membuat malu…”, Fe berusaha lagi untuk menenangkan adiknya.
“Kita wanita, memang lemah, namun tidak boleh pasrah seperti ini, biarlah kita lihat masa depan, walau tidak mudah mengembalikan hati yang suci dan bersih seperti anak kecil!!..”, Fe tidak dapat menahan air matanya.
“Sudahlah, yang sudah terjadi biarlah terjadi, penyesalan pasti selalu datang belakangan, itu sudah lumrah, kamu masih kembali ke rumah saja, sudah membuat aku bahagia”, ” Kakak…kak…(dengan suara terbata-bata)… kak aku hilaf lagi, aku ulangi lagi kesalahan itu”.
“Gadis, yang penting, kamu masih mau kembali kesini lagi, lawan semua rintangan dalam batinmu, biarlah, jangan kita yang menghukum tapi kita serahkan saja pada yang kuasa”. Fe, terdiam matanya menerawang.
“Kita berguna bila kita mengetahui apa arti diri kita!!!”
“Fe, kita semua selau diberi kesempatan untuk menjadi baik, benar kan ? menjadi baik, meski tidak mudah”
“Tidak akan pernah tenang hidup dalam bayang-bayang masa lalu, Fe, sekarang aku sedang sadar…”
“Gadis, akhirnya kamu sadar lagi, iya, pasti tidak mudah, Jangan liat kebelakang terus yah, semuanya itu sudah busuk!”
Mereka berpelukan dan saling melepas rasa rindunya, Gadis tetap tinggal di dunianya sendiri, dan tetap menyendiri. Fe, berharap Gadis bisa cepat keluar dari dunia hayalnya yang kadang-kadang membuatnya tidak dapat membedakan hal nyata dan tidak.

“Gadis, sudahlah yang berlalu biarlah berlalu, semua pasti punya masa lalu yang mungkin kalau kita ingat membuat malu…”