KETERGANTUNGAN

dsc00860

…Pasti banyak hal-hal di dunia ini yang membuat kita menjadi ketergantungan. Jangan asal mikirnya, banyak hal …sekali lagi banyak hal… Kalau ketergantungan obat-obatan sudah pasti lazim kita dengar, apalagi hal yang demikian dilarang oleh hukum negara kita maupun di DUNIA. Oke … jelas… saya bukan membicarakan hal yang demikian.

Pasti juga kita tergantung pada air minum, makan, pakaian, dan sendal, sepatu… tanpa saya harus menjelaskan kembali mengapa, kenapa, dan semua-muanya. Yang mau saya bagi dalam tulisan ini banyak juga ketergantungan yang tidak terlalu aneh dalam masyarakat …walaupun sebenarnya kalau berlebihan ketergantungannya aneh juga….. cotohnya: rokok, alkohol, kerja, sexs…dll.

Tapi adil gak kalau orang-orang seperti itu dibilang “BEDOSA”, walaupun mereka punya agama, rajin ke tempat ibadahnya. Terus mungkin secara pribadi juga suka bohong, marah, namum masih punya rasa menyesal, secara sadar tahu mana baik dan tidak.

Semuanya tergantung lagi pada individunya masing-masing….

APAKAH SAYA BERHAK MENGHAKIMI ORANG LAIN, APAKAH SAYA INI ORANG YANG TIDAK PUNYA DOSA, JAWABANNYA SAYA TIDAK DAN IYA.

KETERGANTUNGAN SAYA PADA NYA, AMPUNILAH ………

Mulai Jumat (3/2/2006), Perda DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 tendang Pengendalian Udara mulai diberlakukan. Pada Perda Tersebut perokok tidak boleh merokok di tempat umum. Tempat umum tersebut bukan hanya di restoran atau mal, kantor pemerintah pun sudah menerapkan larangan itu.(kutipan:http://www.solusihukum.com/berita.php?id=438)

Teori Ketergantungan (bahasa Inggris: Dependency Theory) adalah teori tentang komunikasi massa yang diperkenalkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur. Mereka memperkenalkan model yang menunjukan hubungan integral tak terpisahkan antara pemirsa, media dan sistem sosial yang besar.

Konsisten dengan teori-teori yang menekankan pada pemirsa sebagai penentu media, model ini memperlihatkan bahwa individu bergantung pada media untuk pemenuhan kebutuhan atau untuk mencapai tujuannya, tetapi mereka tidak bergantung pada banyak media dengan porsi yang sama besar.

Besarnya ketergantungan seseorang pada media ditentukan dari dua hal.

  • Pertama, individu akan condong menggunakan media yang menyediakan kebutuhannya lebih banyak dibandingkan dengan media lain yang hanya sedikit. Sebagai contoh, bila anda menyukai gosip, anda akan membeli tabloid gosip dibandingkan membeli koran Kompas, dimana porsi gosip tentang artis hanya disediakan pada dua kolom di halaman belakang, tetapi orang yang tidak menyukai gosip mungkin tidak tahu bahwa tabloid gosip kesukaan anda, katakanlah acara Cek dan ricek, itu ada, ia pikir cek dan ricek itu hanya acara di televisi, dan orang ini kemungkinan sama sekali tidak peduli berita tentang artis di dua kolom halaman belakang Kompas.
  • Kedua, persentase ketergantungan juga ditentukan oleh stabilitas sosial saat itu. Sebagai contoh, bila negara dalam keadaan tidak stabil, anda akan lebih bergantung/ percaya pada koran untuk mengetahui informasi jumlah korban bentrok fisik antara pihak keamanan dan pengunjuk rasa, sedangkan bila keadaan negara stabil, ketergantungan seseorang akan media bisa turun dan individu akan lebih bergantung pada institusi – institusi negara atau masyarakat untuk informasi. Sebagai contoh di Malaysia dan Singapura dimana penguasa memiliki pengaruh besar atas pendapat rakyatnya, pemberitaan media membosankan karena segala sesuatu tidak bebas untuk digali, dibahas, atau dibesar-besarkan, sehingga masyarakat lebih mempercayai pemerintah sebagai sumber informasi mereka.(http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Ketergantungan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s