“MENJADI DIRI …”

“Menjadi diri sendiri” , pernyataan yang cukup terkenal. Saya suka menggunakan kata-kata tersebut apabila sedang berbicara serius. Memberikan satu makna tegas, lugas, bahkan menjadi “tameng” untuk menonjolkan sifat maupun prilaku saya. Baik direspon secara baik atau tidak, mungkin juga kamu ?
Saat ini, “identitas diri” yang sebenar-benarnya sangat sulit untuk dilihat. Masih banyak “identitas palsu” yang sengaja ditampilkan untuk mencitrakan “MENJADI DIRI SENDIRI”.

Seorang laki-laki yang tidak pernah mengenal perkuliahan namun ia dapat membangun sebuah rumah seperti layaknya seorang sarjana tehnik. Seorang wanita yang sepanjang hidupnya pulang pergi menggunakan angkutan kota, bekerja, mencari sesuap nasi layaknya seorang laki-laki, kemudian ia dapat melihat negara adi kuasa AMERIKA. Mereka tidak pernah bermimpi. Tidak pernah memikirkannya. Hanya berjuang untuk hari besok, bukan masa depan. “Namun mereka mendapatkan apa yang tidak pernah mereka pikirkan”.
Menjadi diri sendiri menurut saya adalah seperti mereka. Walaupun tidak mempunyai gelar, tidak mempunyai kendaraan, dan sampai saat ini mereka masih tetap berjuang, BERKAT itu akan selalu mengalir, terus.

“to be, or not to be”

“ To be, or not to be: that is the question:
Whether ’tis nobler in the mind to suffer
The slings and arrows of outrageous fortune,
Or to take arms against a sea of troubles,
And by opposing end them? To die: to sleep;
No more; and by a sleep to say we end
The heart-ache and the thousand natural shocks
That flesh is heir to, ’tis a consummation
Devoutly to be wish’d. To die, to sleep;
To sleep: perchance to dream: ay, there’s the rub;
For in that sleep of death what dreams may come
When we have shuffled off this mortal coil,
Must give us pause: there’s the respect
That makes calamity of so long life;
For who would bear the whips and scorns of time,
The oppressor’s wrong, the proud man’s contumely,
The pangs of despised love, the law’s delay,
The insolence of office and the spurns
That patient merit of the unworthy takes,
When he himself might his quietus make
With a bare bodkin? who would fardels bear,
To grunt and sweat under a weary life,
But that the dread of something after death,
The undiscover’d country from whose bourn
No traveller returns, puzzles the will
And makes us rather bear those ills we have
Than fly to others that we know not of?
Thus conscience does make cowards of us all;
And thus the native hue of resolution
Is sicklied o’er with the pale cast of thought,
And enterprises of great pitch and moment
With this regard their currents turn awry,
And lose the name of action.[1]”

Kutipan dari William Shakespeare’s Hamlet (written about 1600)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s